Tamparan Tuhan yang Paling Manis

Ada ritual menarik ketika kita berdiam menghabiskan waktu sendirian, otak kita terjaga, pikiran berkeliaran merajalela dalam imajinasi tidak terkendali. Ketika itu, kita semakin kesulitan menjaga pikiran dan hati. Ada ketidaktenangan yang menyelimuti, seketika menyapa Tuhan adalah candu yang menenangkan. Sebuah percakapan sederhana dengan Tuhan menghantarkan diri pada lantunan doa yang transenden. Ketika itu setiap hembusan nafas adalah sukma yang mengejawantahkan kesendirian.

Saya belajar dari seseorang tentang bagaimana caranya menghargai beragam perbedaan di tengah pluralitas yang mengelilingi. Saya belajar dari seseorang tentang bagaimana caranya menciptakan ketenangan di tengah pusara amarah berkepanjangan. Dan saya berhutang banyak pada orang itu… Terimakasih karena pernah sempat hadir dan ada. 

Satu waktu, saya dihujani serangan pertanyaan. Tentang bagaimana kepingan-kepingan kehidupan seolah menjadi celah pada setiap kisah yang digariskan oleh semesta. Keputusan yang mencengangkan seolah menjadi legitimasi bagi hasrat yang menolak segala bentuk kemapanan, sisanya bersembunyi dibalik pemberontakan kecil bernamakan ketersembunyian. 




Lima bulan berada di pulau sebelah, saya kembali dengan hantaran intelektualitas dan pola pikir yang menarik. Apa yang semula ingin saya tinggalkan di pulau ini, justru menjadi penarik satu-satunya yang membuat saya ingin dan harus kembali. Semua kenyamanan, fasilitas, kemapanan yang dihadirkan disana, menjadi partikel-partikel yang saya tinggalkan. Kembali pada hiruk pikuk ibukota dengan beragam perangainya yang angkuh, arogan hingga terlampau eksotis bagi banyak kelas masyarakat dengan idealisme hingga hedonisme tidak terbantahkan. Perilaku dengan prinsip idealisme yang keras mesti bertahan secara lebih lebih diantara kepungan-kepungan materialisme sebagai pakem yang utama yang banyak diakui keberadaannya. Keduanya saling berbenturan, dan mereka dengan idealisme tingkat tinggi harus berupaya membuktikan tentang apa yang mereka anggap baik, terhadap apa-apa yang orang lain pikir tidak masuk akal. Sementara segelintir masyarakat dengan sub hedonisme bertingkat, tengah lomba-lomba bertarung dalam serangan antar kelas menengah untuk sama-sama menikmati serentetan gemerlap penawar kerumitan rutinitas yang sontak merunyamkan otak kepala. 

Ketika memutuskan untuk beranjak ke pulau sebelah, saya ingin meninggalkan begitu banyak hal di kota ini. Goresan masa lalu, peristiwa-peristiwa pengekang sendu, banjiran tawa yang mengelak pada sandaran kebimbangan, teman, sahabat dan keluarga. Semua elemen dalam kehidupan yang telah telanjur meluruh dalam bingkai kekecewaan. Kepingan-kepingan ritual hasil olah kekuasaan yang mencerminkan betapa otoriternya sang penguasa yang berdiri di atas singgasana kediktatorannya.

Hingga ketika saya menginjakkan kaki di pulau tetangga, rupanya pola tindakan ini justru berbalik arah. Saya dihujam begitu banyak nyata keadaan tentang hal-hal yang menghardik dalam balutan kesederhanaan. Saya bertemu banyak kepala yang mengajarkan kepiawaian tentang bagaimana caranya bersyukur pada Tuhan, tentang bagaimana caranya menundukkan kepala justru ketika kita bisa menatap semesta dengan begitu kuatnya. Saya belajar banyak tentang bagaimana caranya memaafkan, tentang bagaimana caranya menutup perisai peristiwa masa lalu sebagai faktisitas yang tak mampu dilenyapkan. Tapi paling tidak, saya bisa belajar untuk memilih. Memilih untuk berani mengambil apa yang saya anggap tidak pernah dianggap oleh yang menganggap itu tidak ada. Buat saya, kepindahan saya ke pulau tetangga dengan beragam hantaman pemikiran, keadaan dan tekanan ini adalah sebuah tamparan Tuhan yang paling manis. Tuhan baik sekali, dia mweujudkan satu per satu impian saya pada dunia yang telanjur saya telusuri. Hingga sekalipun saya mengelak, Tuhan tak pernah berkata tidak, Ia hanya berbisik ‘belum’ atau ‘diganti dengan yang lebih baik lagi.’

Ini adalah tamparan Tuhan yang paling manis buat saya. Sebuah tamparan yang membuat saya tertegun dan terperangah tanpa perlu membuat saya kehilangan sesuatu yang semula ingin saya tinggalkan. 

Selamat malam, Tuhan. 

Selamat malam, Semesta….

*Photo credit: radiant guy via Visual Hunt / CC BY-NC-SA

                                       

Comments