Burung Kertas


Ternyata, saya tidak sekuat yang saya bayangkan.
Ketika pernah ada di masa-masa paling sulit dalam hidup
Saat harus sendirian memperjuangkan idealisme yang hampir runtuh ditengah gempuran dan tekanan dari berbagai pihak…
Ketika itu berpikir untuk menghilang sejenak.

Kamu tahu, saya tahu
Warna itu sangat punya arti
Dan saya menemukan warna yang sama dalam sebuah lipatan burung kertas,
Entah ini sebuah kebetulan atau bukan.
Tapi saya tidak akan lagi peduli.
Terimakasih untuk semua hal yang pernah hadir dan ada.

Pernah tahu bagaimana rasanya bisa meraih mimpi sama-sama?
 Tanpa ada keengganan untuk saling mengelak menghantarkan keluh.
Kita tidak pernah berbagi tentang rasa,
 tapi kita punya cara yang sama untuk berbagi
meraih mimpi yang kita simpan masing-masing.

Seseorang pernah bilang,
“Nggak suka banget nih dengan keadaan kayak gini.
Keadaan yang bikin stuck, susah mau ngapa-ngapain.”

Keadaan yang membuatnya seolah tidak lagi punya kesempatan untuk melakukan pilihan, seolah eksistensinya telah direnggut dengan hadirnya pilihan yang menjebak.
Ah, ini menjadi semacam ironi yang menelantarkan ketidakberdayaan seseorang.

Dunia ini mengingatkan saya pada banyak hal, tentang satu per satu bentang perbedaan.
Perbedaan itu ada di mana mana,
dan kita tengah bersengketa dalam perbedaan yang tak lagi bisa kita pahami.

Menulis pun rasanya muak dan lelah,
atau mungkin karena saya sedang kehilangan imajinasi
Saya tengah rindu masa-masa dimana saya, dia, kamu, kita dan mereka belum saling mengenal.

Berjalan dengan sebuah rasa yang tidak pernah kita tahu bagaimana bentuknya,
Kamu, saya dan kita serupa kisah terburuk yang pernah dialami sepasang insan
dan kita telah menodai idealisme yang kita miliki sama-sama.

Ini bukan sekadar pertanyaan superfisial, bahwa:
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, lantas kita tak akan pernah kehilangan apa-apa

Comments