Bongkahan Lava dan Tebing Batu di Ketinggian 2968 Mdpl, Gunung Merapi




Kereta Api Ekonomi Tawang Jaya di Stasiun Senen berangkat pukul 22.00 malam itu. Perjalanan selama hampir sembilan jam pun kami tempuh untuk menuju semarang, tepatnya Stasiun Poncol. Setibanya di Semarang, kami dijemput untuk bersiap-siap lebih dulu di basecamp apacinal sebelum memulai perjalanan. Akhirnya truk yang ditunggu datang, dan kami berangkat menuju Basecamp Selo sekitar pukul 10 pagi. Perjalanan menggunakan truk ini terbilang cukup memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam, dan kami pun tiba di Basecamp Selo sekitar pukul 2 siang.

Salah satu keunikan yang ada di salah satu gunung aktif di Indonesia ini adalah sering mengeluarkan awan panas (Glowing Avalanches) yang dikenal dengan sebutan Wedus Gembel. Awan panas berbenuk bulatan keriting ini memiliki suhu sekitar 1000 derajat celcius ini.


Basecamp Selo
Pendakian kali ini dimulai pukul 3 sore melalui jalur Selo di Boyolali setelah selesai repacking dan bersiap-siap. Pemandangan di sekitar basecamp selo dipenuhi bebukitan dan  ladang warga setempat. Menariknya, tulisan yang terpampang di basecamp ini dibuat sedemikian rupa hingga terlihat besar bertuliskan ‘New Selo’. Tulisan ini biasanya digunakan para pendaki sebagai lokasi menarik untuk mengambil gambar.

Jalur Selo yang terletak di Dusun Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo ini sempat ditutup pada pertengahan Juli lalu. Larangan pendakian ini diberlakukan karena aktivitas Gunung Merapi yang saat itu meningkat dan sering terjadi guguran lava pijar di sana. Sebagai gerbang pendakian utama, Desa Selo (1.560 mdpl) memiliki panorama alam yang indah dikelilingi lahan pertanian dan tembakau penduduk.

Dulu, ada banyak jalur yang digunakan untuk melakukan pendakian gunung merapi selain jalur Selo, seperti jalur Ndeles di Klaten, Babadan di Magelang dan Kaliurang di Yogyakarta. Namun, karena erupsi yang terjadi ketika Merapi beraktifitas tinggi, membuat jalur-jalur ini sulit untuk dilalui. Sekitar beberapa hari sebelum pendakian kali ini, santer terdengar bahwa ada seorang pendaki asing dari Rusia yang tersesat dan hilang saat menjalani Pendakian. Rupanya ia melakukan pendakian illegal dengan naik melalui jalur Kaliurang.

                 

Basecamp Selo – Pos Tugu I dan II
Perjalanan berupa jalan aspal menjadi track yang ditempuh dari basecamp Selo menuju Joglo, yang dilanjutkan dengan jalan setapak menuju Pos Tugu I. Sampai sini, jalur masih dikelilingi oleh ladang penduduk dengan medan bebatuan kecil. Dari Pos Tugu I Perjalanan dilanjutkan menuju Pos Tugu II, dengan jalur yang curam dan penuh bebatuan besar. 


Pos II Selokopo
Medan bebatuan yang terjal serta angin yang kencang menjadi hal yang menemani pendakian menuju ke Pos II. Setibanya di Pos 2, pendaki bisa menikmati indahnya pemandangan kota Boyolali, Yogyakarta dan Magelang yang penuh dengan gemerlap lampu kota. Perjalanan menuju Pos II, yaitu Selokopo Bawah terletak di ketinggian 2040 dilanjutkan menuju Selokopo Atas dengan jalan tanah dan berbatu.

Camp Area
Malam itu dingin begitu menyengat, mungkin karena tak turun hujan. Jarum jangan tangan sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan pendakian pun masih kami jalani berbekal headlamp dan lampu senter. Pendakian malam rupanya menjadi hal yang menarik dalam perjalanan kali ini, langit yang dipenuhi bintang serta gemerlap lampu kota menjadi pemandangan yang menemani hingga akhirnya kami tiba di Camp Area.

Watu Gajah – Pasar Bubrah
Perjalanan summit menghantarkan para pendaki tiba di Batu Prasasti, sebuah tempat yang menjadi tanda bahwa di sana pernah ada pendaki yang meninggal. Pasar Bubrah ini juga biasanya digunakan sebagai tempat untuk mendirikan tenda oleh para pendaki. Sebelumnya, ada bebatuan besar yang menyerupai bentuk gajah dan tempat ini dikenal dengan sebutann Watu Gajah. Jarak dari Watu Gajah menuju Pasar Bubrah tidak terlalu jauh, dengan jalur datar dan berbatu yang bisa ditempuh sekitar 15 hingga 20 menit.



Puncak Gunung merapi
Medan yang terjal dipenuhi pasir dan bebatuan adalah tantangan tersendiri untuk menuju Puncak Gunung Merapi. Waktu tempuh selama kurang lebih satu jam bisa dilalui pendaki untuk menuju Puncak Merapi dari Pasar Bubrah dengan medan yang menanjak dan berbatu. Kali ini, Puncak Garuda adalah tempat yang kami tuju dan penuh dengan batu-batu besar yang mudah longsor. Tidak hanya itu, untuk menuju puncak gunung yang berada di ketinggian 2565 Mdpl ini, para pendaki harus melewati track menanjak yang dipenuhi pasir. Memang terlihat agak sulit dan harus hati-hati, karena jika tidak maka pasir akan mudah longsor dan amblas. Masker pelindung wajah dan Gaiter menjadi dua hal yang akan sangat membantu untuk pendakian menuju Puncak Garuda. Debu dari pasir yang mengenai muka bisa terbantu dengan menyiapkan masker, sementara Gaiter menjadi pelindung agar pasir dan kerikil tidak masuk ke dalam sepatu.





Setibanya di Puncak Garuda, pendaki akan dihadapkan dengan pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan dikelilingi kawan dan tebing batu. Setelah mengalami letusan dan mengeluarkan kubah lava pada Oktober 2010 lalu, Puncak Garuda telah runtuh dan menyisakan tebing-tebing batu.

Perjalanan turun dari Puncak Garuda dilalui seperti jalan turun berpasir. Kalau tidak hati-hati, kaki yang menjejak bisa amblas ke dalam pasir bahkan jatuh. Menariknya, track yang penuh dengan pasir ini akan lebih mudah dilalui jika pendaki sedikit berlari seperti sedang bermain sand boarding.

 Pernah mencoba rock climbing? Para pendaki pun harus memanjat bebatuan besar untuk menuju Puncak Garuda. Para pendaki harus berhati-hati saat memijakkan kaki, karena sedikit saja lengah, maka bebatuan yang mudah longsor akan mengenai para pendaki lain yang berada di bawahnya. Setibanya di Puncak, para pendaki akan disuguhi hamparan kawah Gunung Merapi. Tidak hanya itu, cantiknya Gunung Merbabu yang menjulang tinggi juga bisa jadi pemandangan yang menarik sekali untuk dinikmati.



                                    



Comments