Menyapa Hamparan Edelweiss di Gunung Gede 2958 Mdpl



Gunung gede adalah gunung pertama yang saya naiki 3 tahun lalu, dan pendakian ini berulang menuju puncak yang berada di ketinggian 2958 Mdpl dengan melalui jalur berbeda, jalur Gunung Putri. Berangkat dari Terminal Kp. Rambutan dan tiba di Pasar Cipanas sekitar pukul 11 malam, akhirnya kami tiba dan melanjutkan perjalanan dengan naik angkot kecil menuju gunung putri. Kami punya waktu istirahat sekitar satu jam sebelum akhirnya bersiap sholat shubuh dan memulai pendakian. Pagi itu, dingin menusuk begitu dalam, saya merapatkan jaket seraya berdoa dalam hati bahwa pendakian kali ini bukan hanya sekadar pendakian untuk lebih mendekati Tuhan. Tapi untuk mengembalikan sisa-sisa rasa yang pernah tertoreh tiga tahun lalu, mengembalikannya pada puncak Gunung Gede dan membiarkannya hilang lenyap tersapu awan putih.

Perjalanan menuju Alun-alun Suryakencana pun semakin dekat setelah sebelumnya kami melapor ke pos penjagaan volunteer. TNGP (Taman Nasional Gunung Pangrango) ini memang terbilang sangat tertib, bahkan ketika ada beberapa dari kami yang masih menggunakan sandal gunung pun mendapat teguran agar lain kali memakai sepatu gunung.

Perjalanan pagi itu dimulai dengan sarapan lebih dulu di sebuah spot yang agak datar dengan pemandangan ladang dan pegunungan yang menjulang tinggi. Saat itu jalur Putri cukup ramai dengan pendaki-pendaki lain, karena bertepatan dengan pendakian massal yang diselenggarakan oleh institusi lainnya. Menarik, karena kami bertemu dengan beberapa anak kecil yang turut dibawa oleh para orangtuanya. Di tengah usianya yang masih kecil, anak-anak itu telah lebih dulu mengenal alam.

Pos 1 – Pos 3
Pemandangan menuju pos 1 melalui jalur putri tidak kalah menariknya, kami menyusuri jalur tanah yang kanan kirinya dipenuhi dengan ladang dan kebun milik warga setempat. Melintas sungai kecil, dan dari sini jalanan mulai menanjak. Tangga-tangga yang menjadi pembuka jalur pendakian tidak terlalu terjal, dengan pemandangan hutan yang terbentang sepanjang tangga. Gapura di ujung tangga menjadi penanda bahwa pendakian sudah tiba di pos 1.


Perjalanan dilanjutkan dan kami mulai memasuki area hutan yang cukup rimbun dan terlihat rapat, khas pegunungan Jawa barat. Aroma yang tercium ketika menginjakkan kaki di hutan serta udara sejuk menyapa para pendaki dari sela-sela keanggunan Gunung Gede.
Seingat saya ada beberapa pos yang dilewati, namun tidak saya ingat terperinci. Kalau tidak salah ada Simpang Buntutu Lutung, Lawang Saketeng, dan Simpang Maleber, Sepanjang jalan, trek jalur putri dilalui dengan beberapa tanjakan curam, ditambah akar-akar pohon yang melintang.

Rombongan kami kali ini terbilang cukup banyak, mencapai hampir 20 orang. Saya berjalan bersama rombongan di depan hingga tanpa sadar semakin lama rombongan di belakang cukup jauh tertinggal. Hujan pun turun disertai dingin yang mulai menusuk, buat saya pribadi ini adalah situasi yang cukup rawan. Bukan hanya karena tubuh saya tidak kuat menahan dingin, tapi suasana tiga tahun lalu tiba-tiba terbersit lagi di sini. Suasana dimana perjalanan turun dari puncak melalui jalur putri menempuh waktu hampir 15 jam. Sesuatu yang dapat dibilang agak tidak normal (diceritakan di bagian akhir berupa flashback intermezzo).





















Saya dan rombongan pertama tiba lebih dulu di alun-alun suryakencana dengan kondisi hujan yang masih deras. Saat itu saya menggigil, dingin yang terasa seperti saat itu saya mendaki gunung sindoro. Dingin yang membuat saya tidak sadarkan diri. Saya merapatkan jaket erat-erat namun dingin yang menyengat tak kunjung hilang sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangan yang menunjuk pukul 5 sore.


Tenda sudah didirikan, dan saya tak punya sedikitpun hasrat untuk makan. Dingin ini sudah menjalar ke sekujur tubuh yang meringkuk di dalam sleeping bag. Sudah hampir pukul 7 malam, tapi rombongan kedua belum juga muncul. Kami mulai gelisah namun masih memutuskan untuk menunggu sejenak. Hingga akhirnya dirasa sudah sangat tidak wajar, 2 orang diantara kami memutuskan untuk menyusul ke belakang mencari teman-teman rombongan yang tertinggal.




Benar saja, rombongan kedua tertinggal dan beberapa dari mereka tampak kedinginan. Rupanya di tengah perjalanan tadi mereka terhambat, beberapa ada yang sakit. Komposisi rombongan yang terbagi dengan jumlah yang tidak rata sepertinya juga cukup ambil andil membuat jarak rombongan pertama dengan kedua terlampau sangat jauh.

Pagi hari kondisi mulai sedikit lebih stabil, kami bersiap memulai pendakian ke puncak dengan jarak tempuh normal sekitar 1 jam. Jalur menuju puncak Gede cukup tertata, jalan setapak yang dilalui pun cukup jelas dan tidak membingungkan. Bebatuan dan pepohonan besar menjadi teman setia, di beberapa tempat nampak bunga-bunga cantik yang bermekaran. Siang itu kabut masih menyelimuti setibanya kami di puncak Gunung Gede, sementara kami pun memutuskan untuk masak makanan disana.



Perjalanan turun pun terbilang lancar, kami tiba di tenda-tenda dan menatap kembali Alun- alun Surya Kencana yang malam tadi nyaris tak terlihat karena hujan mengguyur. Eidelweiss saat itu belum bermekaran, tapi hamparan savanna yang di dataran yang lapang itu menjadi penyambut yang manis untuk para pendaki yang baru saja turun dari puncak.
Sekitar pukul satu siang, kami bersiap melakukan perjalanan turun menuju pos penjagaan. Kali ini komposisi rombongan diperbaiki untuk menghindari ada rombongan yang tertinggal jauh. Sementara itu saya bersama tiga orang lainnya berjalan agak di belakang. Kami sedikit tertinggal, karena kondisi teman perempuan yang mengalami cidera di kaki. Saya sendiri masih kesakitan karena jari kuku yang terantuk sepatu mulai membiru, keadaan kaki saya semakin parah karena seminggu sebelumnya baru saja mendaki Gunung Merbabu dan jari kaki sedikit luka. Awalnya tidak saya hiraukan, tapi lama kelamaan jari kaki semakin sakit sampai-sampai saya melepas sepatu dan mengenakan sandal gunung milik teman. Dalam hati agak kaget karena jari kaki yang semula membiru, kini tiba-tiba menghitam dengan nyeri yang sangat terasa.

Jam di pergelangan tangan sudah menunjuk pukul 5 sore dan sebentar lagi gelap. Kami terlambat menyadari bahwa kami berjalan hanya berempat di bagian paling belakang, sementara yang lain sudah terlalu jauh. Tiba-tiba kelelahan mulai mendera, dan nyeri di kaki semakin tidak tertahan hingga saya terperosok jatuh. Saya makin panik saat melihat jari kuku yang menghitam dan rasanya sakit sekali saat digerakkan, hingga ketika berjalan saya jatuh kembali dan kali ini jatuh pada anak-anak tangga hingga terasa kening ini membentur bebatuan keras. Saat itu gelap mencekam dan penerangan kami pun nyaris tidak mencukupi. Saya hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan, dan digendong pun akhirnya menjadi pilihan terakhir. Hingga akhirnya kami berempat kelelahan dan memutuskan untuk duduk menunggu bantuan datang.

Sudah pukul 8 malam dan kami berharap salah satu dari rombongan di depan sana menyadari bahwa kami masih tertinggal di belakang. Tidak berapa lama dari kejauhan kami mendengar sayup-sayup suara berteriak memanggil, ah rupanya ada yang datang menjemput. Perjalanan menuju pos penjagaan tinggal sedikit lagi, dan kami pun bisa bernafas lega ketika beberapa ranger (petugas di pos penjagaan) menyusul dan membantu saya dan seorang teman saya yang kakinya juga cidera. Malam itu, tak ada suara yang lebih indah dari sayup-sayup suara yang memanggil-manggil dari kejauhan di tengah gelapnya hutan.





Flashback intermezzo:
Tiga tahun yang lalu, saya bersama rombongan naik ke Gunung Gede melalui jalur Cibodas. Saat itu kondisi beberapa orang sedang tidak fit, termasuk saya yang kakinya terkilir. Tim memutuskan untuk turun melalui jalur putri berharap lebih cepat, namun siapa sangka perjalanan yang secara normal bisa ditempuh 6-7 jam, justru kami lalui dua kali lipat, yakni sekitar 15 jam. Pukul 12 siang kami turun dari puncak Gunung Gede melalui Jalur Putri. Perjalanan terasa jauh dan lama sekali, hingga hari mulai gelap dan kami tak juga sampai. Saya mulai gusar ketika waktu menunjukkan pukul 7 malam, dan belum ada tanda-tanda kami tiba di pos penjagaan volunteer. Perbekalan kami mulai habis, hanya tersisa beberapa botol air minum yang kami teguk pelan-pelan. Makanan pun hanya tersisa sedikit, saya pasrah ketika harus memakan gula merah yang dibagi rata agar tidak kehabisan tenaga (padahal sejak awal saya nggak suka gula merah). Penerangan kian redup, saat itu seingat saya senter yang tersisa tidak sampai setengah dari jumlah kami keseluruhan.

Malam semakin larut, perjalanan turun diguyur hujan beberapa kali. Kami memutuskan untuk terus berjalan karena kondisi yang tidak memungkinkan jika mendirikan tenda. Iya, semalaman kami berjalan dengan penerangan dan perbekalan seadanya di tengah kondisi dingin hujan dan suasana mencekam. Saya benar-benar menjaga pandangan saat itu, tak berani menoleh ke tempat selain yang disinari oleh senter teman.

Jarum jam sudah hampir menunjuk pukul 12 malam, dan kami belum juga menemukan tanda-tanda tiba di pos penjagaan. Sudah semakin lelah dan hampir tidak bertenaga, saya menelan paksa pelan-pelan gula merah dan cokelat yang tersisa. Kondisi sudah semakin tidak kondusif, seorang teman perempuan saya menangis tiba-tiba, disusul dengan teman perempuan yang juga menangis sesenggukan sepanjang jalan. Teman lelaki yang lain berusaha menenangkan, sementara ada satu lain yang sepertinya tersulut emosi. Diantara kami berdelapan, ada dua orang yang sebelumnya pernah mendaki gunung gede, namun hanya satu orang diantaranya yang pernah melalui jalur putri. Jujur saja, harapan kami saat itu ada pada dua orang lelaki. Namun mirisnya, kondisi dua lelaki itu pun dalam kondisi sakit dan kurang fit. Saat itu, saya sendiri masih sekuat tenaga menahan sakit dari kaki yang terkilir dan dingin yang makin menusuk. Saat itu… Saya hanya ingin pulang.

Kami melangkah dengan sisa-sisa tenaga dan keyakinan yang masih ada. Berusaha menenangkan dan menghibur satu sama lain, sambil meyakinkan diri bahwa esok pagi kita pasti tiba di pos penjagaan. Sekitar pukul tiga, akhirnya ladang dan kebun milik warga mulai terlihat dan kami pun bernafas lega. Itu artinya pemukiman warga sudah dekat. Kami beristirahat di sebuah saung yang sepertinya milik warga setempat yang digunakan untuk berjualan, sementara salah satu dari kami memutuskan untuk turun lebih dulu agar bisa secepatnya melapor ke pos penjagaan. Kala itu keadaan sudah jauh lebih tenang, dan saya pun terlelap hingga pagi datang dan inilah titik dimana kisah selanjutnya dimulai. Sebuah kisah yang menjadi awal dari keadaan yang tidak seharusnya terjalin. Ini tentang cerita yang saya sesali di kemudian hari.

Comments