Menelusuri 40 Tahun Karni Ilyas dalam Berita


Sosok Karni Ilyas tentu tidak lagi asing di dunia jurnalistik, debutnya sebagai pembawa acara di Indonesia Lawyer Club (ILC) kian melambungkan namanya. Karni dengan suaranya yang khas memandu acara ILC yang awalnya bernama Jakarta Lawyers Club ini memulai perantauannya dari Padang menuju Jakarta berbekal uang lima ribu perak di kantung celananya.

Ketika ditanya oleh saudara sepupusnya ketika ia masih SMA tentang kenapa dirinya ingin jadi wartawan, pria yang akrab disapa Bang Karni ini menjawab, “Saya kepingin jadi wartawan. Saya kepingin terkenal.” 40 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk perjalanan karier Karni Ilyas, sementara 20 tahun diantaranya ia jalani sebagai seorang Pemimpin Redaksi.

Di luar pengetahuan tentang teori hukum dan praktiknya, Karni menyerap ilmu menulis pada semua seniornya, terutama Ahmad Bastari Asnin, Harun Musawa, Goenawan Mohammad, dan Syu’bah Asa. Selanjutnya, ia terbiasa mempelajari letak kekurangan dan kelemahan tulisannya begitu selesai diedit. Teknik wawancara yang di dalamnya mencakup cara bertanya dan menggali informasi, diakui oleh Karni telah secara otodidiak dipelajari. Gurunya adalah pergaulan selama bertahun-tahun di Pasar Raya Padang. Menariknya. ia tak pernah merekam perbincangan dengan narasumber melalui alat perekam. Sebaliknya, ia mendengarkan baik-baik setiap detail isi wawancara dengan narasumber dan begitu sampai di kantor, ia tulis hasil wawancara dalam bentuk berita.

Meniti karir dari bawah pun mesti dijalani Karni dengan penuh perjuangan. Itulah mengapa baginya, setiap berita harus diburu untuk mendapatkannya. Tidak ada istilah jauh, hujan atau sulit menghubungi narasumber. Seorang reporter wajib ketemu dengan narasumber yang sudah ditugaskan padanya. Baginya, wartawan itu baru kerja jika orang yang dikejar itu tidak mau diwawancara. Semangat, disiplin dan kerja keras yang dimiliki Karni selalu dialirkan pada semua reporternya agar tidak didahului oleh kompetitor. Sebuah peristiwa yang bernilai berita bisa meletus kapan saja. Siapa yang telat mengantisipasinya, tidak akan pernah jadi yang pertama.

Hal inilah yang dituangkan oleh penulis Fenty Effendy dalam buku keenamnya berjudul Karni Ilyas Lahir Untuk Berita. Dalam proses penulisan buku, perempuan yang juga pendiri National Press Club of Indonesia (NPCI) ini tidak hanya bertumpu pada kisah hidup Karni sebagai sumber utama penulisan, namun ia juga menggunakan riset kepustakaan, seperti surat kabar dan majalah tahun 1970-an hingga 1990-an untuk mendukung tulisannya.

Dalam bukunya, penulis yang menyelesaikan S1 di Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara ini juga menampilkan cuplikan berita yang pernah ditulis oleh Karni. Hal ini membuat pembaca seolah dibawa masuk ke masa lalu Karni dan menikmati tulisan yang pernah dibuatnya sejak masa-masa awal menjadi wartawan. Dari sana, pembaca diajak untuk mengikuti langsung kejadian apa saja yang pernah diliput, hingga akhirnya membuat Karni sukses menghasilkan headline eksklusif di awal karir. 

Penulis tidak hanya sekedar mewawancara dan menulis biografi tentang sang tokoh, penggunaan bahasa yang jauh dari kesan kaku dengan sudut pandang pertama sang tokoh membuat pembaca terasa sedang mendengar kisah langsung dari seorang Karni Ilyas. Fenty sendiri bukan hanya sekedar menjalani fungsinya untuk sekadar menuliskan kisah, ia memberi sentuhan yang menarik hingga pembaca menjadi terasa dekat dan mengenal langsung sosok Karni melalui untaian kata yang dirangkai oleh sang penulis. Celetukan khas Karni jadi bumbu yang menarik bagi pembaca. Ucapan dan ungkapan yang natural dari Karni menjadi sesuatu yang bisa menginspirasi, hingga buku ini pantas dibaca oleh banyak kalangan.

Pembaca seperti digiring menuju masa-masa dimana Karni mulai berkarir dengan kepekaannya sebagai seorang wartawa. Mengikuti kasus demi kasus, mulai dari eksekusi Henky Tupanwael, memburu Oemar Seno Adji, hingga tentang Adnan Buyung yang tersandung kasus. Secara detail, Fenty meramu fakta-fakta dari kasus yang pernah ditulis Karni, dengan tambahan cerita yang membuat pembaca seolah seperti berada langsung di tempat kejadian.

Fenty tidak hanya merangkai fakta-fakta dan data, tapi ia memberikan sentuhan cerita di dalamnya. Dalam buku ini, penulis berhasil membuat sang tokoh seperti sedang bercerita, mengisahkan rangkaian hidup yang dijalani lewat pertalian antara fakta dan cerita. Ia memaparkan dengan menarik bagaimana peranan Karni saat turut serta dalam membenahi Jawa Pos, jatuh bangunnya menjalani peran sebagai Pemimpin redaksi di Majalah Forum, hingga tentang kisah bagaimana terbentuknya Jakarta Lawyers Club, yang menjadi awal mula dari Indonesia Lawyers Club.


“Kalaupun lahir kembali, saya maunya tetap jadi wartawan.” –Karni Ilyas-


TIKA SYLVIA UTAMI

Judul Buku                  : Karni Ilyas Lahir Untuk Berita
Penulis                         : Fenty Effendy
Penerbit                       : PT Kompas Media Nusantara
Cetakan                       : Cetakan Kedua, Oktober 2012
ISBN                           : 978-979-709-671-7
Harga                          : Rp 86.000,-

Comments