Menyatunya Dongeng dan Lukisan dalam Laju Perahu Kertas


Menyatunya Dongeng dan Lukisan dalam Laju Perahu Kertas
Tulisan dimuat di depoklik.com pada 29 Oktober 2012

“Dengarkanlah suara hati, karena hati tidak pernah memilih, ia tahu harus berlabuh di mana.”
Itulah yang dialami Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas, novel keenam Dewi ‘Dee’ Lestari. Keenan yangintrovert, halus dan senang melukis, mengalami pergolakkan batin yang begitu dalam ketika harus mengikuti keinginan sang ayah, termasuk saat harus merelakan dirinya masuk jurusan manajemen. Tapi siapa sangka, keterpaksaan dan pengorbanan yang ia lakukan demi ayahnya itulah yang justru mempertemukannya dengan Kugy. Gadis remaja penyuka dongeng, periang yang menganggap dirinya sebagai anak buah Dewa Neptunus ini kerap kali menulis surat dan melipatnya dalam bentuk perahu kertas untuk dihanyutkan di setiap aliran air.
Perasaan terpendam antara Keenan dan Kugy disembunyikan dalam balutan persahabatan. Status Kugy yang saat itu masih memiliki kekasih serta usaha perjodohan Keenan dan Wanda, seolah menjadi pelengkap yang membuat keduanya semakin berjarak. Keduanya merasa kehilangan, namun tak ada yang mengutarakan, seolah membiarkan sesak yang menyeruak itu berkecamuk dalam perasaan, tanpa tahu harus diapakan. Perasaan hampa dan kosong membuat Keenan memilih kediaman Pak Wayan di Bali untuk membangun dan menata ulang kehidupannya, sebagai pelukis. Akhirnya, kesibukan yang dijalani Keenan dan Kugy telah merepresi rasa rindu yang singgah, hingga sejenak keduanya mampu mengalihkan rasa yang terpendam.
Read More... Click HERE

Comments