Padanan Eksotis dari Kaki Langit Papandayan


Padanan Eksotis dari Kaki Langit Papandayan

“Malam itu, langit terlihat begitu anggun.
Pekat gulita menjadi pemanis dari pertautan antara sunyi dan kerinduan.”
-Langit Malam Papandayan, 27 Oktober 2012-




    Angin pegunungan menyentuh wajah dalam-dalam dari atap bak terbuka yang kami tumpangi. Puas sekali melepas jenuh yang melekat sejak beberapa waktu lalu. Sepanjang jalan, masih terlihat sisa-sisa kebakaran hutan yang sempat melanda beberapa waktu lalu. Mengawali pendakian pagi itu, mata kami tak hentinya disuguhi hamparan kawah belerang yang baunya tajam menusuk hidung. Masker yang dibasahi dengan air, segera kami pakai untuk meminimalisir bau belerang yang begitu menyengat.

            Belum sempat sarapan, kami memutuskan menepi sejenak untuk masak. Menu sarapan nasi putih dengan sarden jadi pengganjal perut hingga menunggu jam makan selanjutnya. Roti dan cokelat jadi pilihan sarapan lain yang bisa dinikmati pagi menjelang siang itu. Perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Saladah yang nantinya akan kami jadikan tempat berkemah. Bayangkan betapa indahnya padang rumput seluas 8 Ha yang terhampar di depan mata, jadi tempat yang asyik untuk bersantai sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.


Kami istirahat sebentar lantas segera menuju Tegal Alun. Hamparan bunga edelweis jadi pemandangan yang tidak henti membuat decak kagum. Track yang cukup menanjak dengan bebatuan di kanan kiri, jadi alur yang mesti kami lewati. Tiba di puncak, rupanya ada kebingungan yang melanda, benarkah ini puncaknya? Karena situasi puncak yang sedikit berbeda dengan ekspektasi. Kami pun melepas lelah dan bersantai sejenak di puncak, sambil tak henti meletakkan kebingungan tentang posisi puncak yang dituju.

Lihat selanjutnya.... Click HERE



Comments