Dataran Tinggi Dieng, Sebuah Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng, Sebuah Negeri di Atas Awan



“Tapi yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: 
Sebuah rumah yang sesungguhnya, yang membuat kita tak akan merasa asing
 meski berada di tempat asing sekalipun... 
Because travelers never think that they are foreigners.” 
–Windy Ariestanty, Life Traveler-


Cuplikan kalimat di atas, rasanya tepat untuk mengungkapkan tentang perjalanan (14/11) lalu menuju Dataran Tinggi Dieng. Merasa asing di tengah kawasan yang belum pernah dikunjungi, bersama sekitar 40 orang lainnya yang tidak kalah asing. Hingga catatan perjalanan ini ditulis, akhirnya saya memahami: because travelers never think that they are foreigners. So, let’s find out about our new journey with a new team at a new place. Ini dia, penyusuran tentang eksotismenya Dieng. Enjoy our trip...

Perjalanan yang ditempuh hampir 13 jam itu rasanya bikin pegal seluruh badan. Bukan hanya karena lamanya perjalanan, tapi juga posisi tempat duduk di kendaraan (elf) yang mesti cermat untuk menciptakan posisi nyaman masing-masing. Berangkat sekitar pukul 10.00 malam (13/11) membuat rombongan yang terdiri dari 3 elf itu baru tiba di Wonosobo dini hari. Hamparan sawah ditambah pepohonan hijau sepanjang perjalanan adalah amunisi terhebat untuk mengenyahkan semua faktisitas dan kelelahan yang melekat.

Tak sempat sarapan di Tieng karena hari sudah terlalu siang, akhirnya rumah makan di pinggir jalan pun menjadi pilihan. Well, padahal Tieng yang juga dikenal dengan sebutan Gardu Pandang Tieng ini tempat yang nggak kalah asyik. Lokasi yang letaknya berada di sebelah kanan jalan, sebelum memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng ini bisa jadi pilihan yang seru untuk tempat untuk melepas lelah. Berada di ketinggian 1.789 meter di atas permukaan laut, membuat pengunjung bisa menikmati pemandangan alam Dieng dengan latar belakang Gunung Sindoro dan hamparan awan yang membentang.

Mengawali Dieng dari Mata Air Abadi Tuk Bimo Lukar
Dataran tinggi Dieng dengan pesonanya yang kian tersimpan itu, selalu punya kekhasan tersendiri untuk membuat banyak kalangan singgah sejenak di kawasan yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Mata Air Abadi yang juga dikenal dengan sebutan Tuk Bimo Lukar menjadi destinasi awal untuk memulai perjalanan hari itu. Dilengkapi dengan pancuran air yang masih bisa digunakan, sumber mata air ini adalah hulu dari Sungai Serayu. Konon, mencuci muka atau sekadar membasuh tangan di mata air ini adalah salah satu tradisi untuk memulai perjalanan di kawasan dieng.

Lihat selengkapnya, Click HERE...

Comments

  1. Keren foto-fotonya nih ;) jadi pingin kesana..
    konjungan balik silakan http://backpackerkoprol.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment


Thanks for visit my blog
Feel free to like and comment the article that you like.
And click subscribe button on top