Ronggeng Dukuh Paruk 'Kembali' Setelah 22 Tahun Tersensor


Ronggeng Dukuh Paruk 'Kembali' Setelah 22 Tahun Tersensor
*dimuat di depoklik pada 6 Agustus 2012*


“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”
 –Seno Gumira Ajidarma-

Buku berjudul Ronggeng Dukuh Paruk mungkin masih terdengar asing untuk beberapa kalangan, tapi bagaimana dengan film Sang Penari yang sempat ditayangkan di bioskop Indonesia beberapa waktu lalu? 

Film arahan sutradara Ifa Isfansyah ini menarik perhatian hingga mengingatkan kembali pada sebuah novel yang menjadi inspirasi film tersebut, novel yang disebut-sebut oleh Dr. Bertold Damhauser, Univ. Bonn, Jerman sebagai bacaan wajib mahasiswa jurusan sastra Asia Timur, novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

Lembaran demi lembaran novel Ronggeng Dukuh Paruk menyisakan perasaan yang dinamis, pembaca seolah ikut masuk dan mengikuti tiap gejolak yang dihasilkan lewat tokoh-tokoh yang dihadirkan. Pembaca tidak hanya diboyong menuju seting di masa itu, tapi juga dihentak dengan fakta-fakta mencengangkan dan tidak terbayangkan yang pernah terjadi di nusantara. 

Baca selengkapnya, klik di sini

Comments