Pengarang Sudah Mati


Pengarang Sudah Mati


Apa mungkin tidak ada yang lebih mengerikan daripada sekedar mendapati sebuah justifikasi yang dilempar begitu telak tanpa sanggahan??? Seolah tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk pembelaan. Tidak peduli makna yang terkandung di balik teks, faktanya nilai dari sebuah kata-kata hanya berakhir dari pandangan semata. Ah, sayang sekali. Interpretasi dangkal dengan kemampuan hermeneutik yang tidak terasah itu seolah menjadi penyebab ketidakmengertian akan teks.

Ketika seseorang dihujam oleh justifikasi yang seketika melabelisasinya tanpa ampun, dan ia tidak dibiarkan menghantarkan sebuah penjelasan… Saat itu eksistensinya sudah mati. Hilang menggesang di udara bersama butiran-butiran molekul terkecil di dunia.

Sulit sekali rasanya menerima bahwa ada hal-hal di luar sana yang belum selesai, sementara diri tidak lagi punya kuasa untuk sekedar berkata. Seolah semua penjelasan pun akan berakhir dengan pengabaian sempurna dalam tingkat yang tidak pernah dikenali.

“If I do a mistake, surely I will say sorry.”

Di sini letak permasalahannya, ketika tidak ada satupun kata kunci yang membuat paham tentang di mana letak kesalahannya. Pikiran ini terlalu lelah untuk dipenuhi segala praduga tak bersalah yang terus menerus menggeliat dalam imajinasi. Seolah saya diharuskan menelan segala hal yang selama ini pernah terjadi begitu saja, tanpa diberi celah untuk tahu bagian mana yang membuatnya menutup semua akses.

Lihat selengkapnya, klik di sini





Comments