Meraih Kesuksesan dalam Mimpi Sejuta Dollar


Meraih Kesuksesan dalam Mimpi Sejuta Dollar
*dimuat juga di depoklik.com pada 11 Januari 2012
* Terpiih sebagai Resensi Pilihan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Apa yang Anda bayangkan ketika membaca sebuah buku motivasi? Berharap menemukan kalimat yang bertabur kata-kata mengesankan, sarat dengan penuturan dari sang pemberi motivasi? Lantas bagaimana dengan sebuah buku biografi yang cenderung meletihkan untuk dibaca? Kali ini, Alberthiene Endah akan mengantarkan pembaca untuk menyelami kehidupan seorang Merry Riana dengan tutur kata yang mengalir lancar dan tidak terkesan sebagai sebuah bacaan berat. Perempuan yang akrab disapa AE ini tidak sekedar mengisahkan perjuangan hidup yang menggugah dari seorang mahasiswa berkantong pas-pasan yang menimba ilmu di Nanyang Technology University (NTU), Singapura. Namun, AE juga berhasil memanifestasikan nilai-nilai kehidupan menjadi ramuan ampuh untuk menuju kesuksesan.

Merry Riana, sosok perempuan yang sukses menjadi miliuner dengan pendapatan lebih dari satu juta dolar di usia 26 tahun ini menjadi sosok yang menginspirasi. Pengusaha yang juga penulis buku best seller ‘A Gift from a Friend’, serta motivator yang dinamis ini menorehkan begitu banyak jurus kesuksesan berlandaskan pengalaman hidup yang dijalaninya. Namun siapa sangka ternyata Putri sulung berdarah tionghoa dari pasangan Ir. Suanto Sosrosaputro dan Lynda Sanian ini harus merasakan pahit getir kehidupan saat tragedi tahun 1998 di Indonesia. Keadaan yang mencekam saat itu membuat orangtua Merry khawatir dan nekat mengirim putri sulungnya itu ke Singapura dengan uang pas-pasan, serta berbekal uang pinjaman dari Development Bank of Singapore sejumlah 300 juta rupiah dalam kurs dolar Singapura. Dengan biaya finansial seadanya serta kemampuan bahasa inggris yang terbilang kurang, Merry harus rela meninggalkan tanah Ibu Pertiwi dan mengarungi masa perkuliahan yang menegangkan di negeri tetangga. Peristiwa Mei 1998 memang menorehkan jejak luka batin yang mendalam bagi banyak kalangan, termasuk Merry yang kala itu harus memupuskan keinginannya untuk menjalani pendidikan di Universitas Trisakti. 

Comments