Recovery from Comfort Zone

Recovery from Comfort Zone

"Satu hal yang membuat saya sedih adalah ketika saya 
harus naik ke level selanjutnya
dalam kehidupan, sementara saya belum siap untuk itu" (Mr. J)

Kalimat itu datangnya dari seseorang yang membuat saya begitu nyaman berbincang tentang banyak hal, meski kami tidak pernah lantas bertemu sebelumnya. Beranjak ke level lain yang lebih tinggi dalam kehidupan menjadi satu hal yang tidak bisa dikesampingkan. Bagi sebagian orang, ini jadi hal yang menyenangkan, namun sebagian lagi mungkin akan berkata bahwa ini adalah hal yang menakutkan. Saat pertama kali masuk dunia kampus, saya merasa sangat merindukan lingkungan SMA. Perhelatan sebagai seorang mahasiswa rasanya menjadi hal yang sangat mengerikan, ketidaksiapan mental seseorang menjadi pengaruh yang sangat besar. Tapi apa yang terjadi saat seseorang lulus dan masuk ke dunia pasca kampus, Ia kembali mengalami kerinduan akan masa lalu dengan apa yang pernah dijalani sebelumnya di dunia kampus. 
 
Perpindahan seseorang menuju level selanjutnya dalam kehidupan pasti menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu. Bergerak ke arah yang lebih baik dengan level berbeda adalah sebuah pencapaian hidup yang ingin diraih oleh seseorang. Tapi ada semacam efek samping yang akan dirasakan, yakni kesedihan saat harus meninggalkan kondisi yang sudah ada sebelunya. Inilah drama perpindahan level yang seringkali menjerat seseorang berada dalam palung kesedihan yang berlarut. Padahal, bukan tidak mungkin seseorang bisa melewati tahapan itu dengan mudah hingga suatu saat nanti kembali merindukan masa-masa yang pernah dianggap sulit oleh dirinya sendiri itu. Berdiam terlalu lama dalam sebuah comfort zone mungkin menjadi hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Comfort zone will not make you want to go out, karena hanya akan ada kenyamanan di dalamnya yang membuat seseorang terlena untuk berdiam lebih lama.

Lihat selengkapnya... klik di sini

Comments