Multikulturalisme sebagai Pluralisme Prosedural dalam Polemik Kekerasan Massa


Multikulturalisme sebagai Pluralisme Prosedural 
dalam Polemik Kekerasan Massa

 Indonesia dengan segala bentuk keberagamannya hadir tanpa bisa dinafikkan begitu saja, baik dari segi keberagaman Suku, budaya, maupun agama. Kemajemukan yang ada ditengarai sebagai sebuah penjembatanan untuk menuju sebuah kebersamaan. Meskipun begitu, perbedaan yang ada bukan sebuah hal yang harus ditanggapi dengan kekerasan.
Kekerasan seolah sudah dianggap menjadi sebuah hal yang wajar demi mencapai penyelesaian atas problematika ini. Disinilah klaim kebeneran menjadi dianggap penting oleh masing-masing kelompok dengan berbagai pendapat yang ingin dipertahankan. 
 
Perbedaan-perbedaan tersebut seringkali dimunculkan tanpa adanya itikad untuk menanggapinya secara plural, dan mengakibatkan bentrok dalam pandangan, Tindakan ekstrim yang dilakukan yakni ketika penyampaian pendapat dilakukan lewat kekerasan. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Leo Tolstoy, filsuf asal Rusia yang berpendapat bahwa “kekerasan dari mana datangnya pun akan mengundang dendam dan pembalasan dengan kekerasan”. Anggapan yang keliru adalah bahwa kehidupan akan menjadi damai dengan dilakukannya tindak kekerasan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menghantarkan kita pada sebuah bentuk absurditas, yakni ketika sebuah keinginan untuk memperjuangkan idealisme yang notabene mengarah pada sebuah idea yakni kedamaian, justru diraih dengan sebuah tindak kekerasan.

See more... Klik di sini

Comments